SELAMAT DATANG DI BLOG PENAMBANG ILMU

Selasa, 17 Februari 2009

Dapatkah Gempa Bumi di Prediksi ?

Dapatkah Gempa Bumi di Prediksi ?



Berita Iptek - Pertanyaan yang sering saya dapatkan pada saat survei di lapangan yaitu "dapatkah anda memprediksi gempabumi ?" Saya biasanya menjawab pertanyaan antusias tersebut dengan, "ya bisa". Saya jabarkan lebih detail lagi "dalam bulan ini mungkin ada gempa magnitud 5 di pulau Jawa" atau "dalam 100 tahun ke depan mungkin ada gempa magnitud 8 di pantai barat Sumatra". Jawaban tersebut saya berikan karena saya mengetahui secara statistik di pulau jawa terdapat 2-4 gempa magnitud 5 setiap bulannya. Dan di Sumatra hampir setiap 100 tahun terdapat gempa magnitud diatas 8 pada segmen yang berlainan. Tetapi seandainya pertanyaan tersebut dilanjutkan dengan "kapan tepatnya gempa dengan magnitud 8 tersebut akan terjadi ?" maka jawaban saya sederhana saja "saya tidak tahu". Sangat ironi bahwa suatu hal yang paling diharapkan dari peneliti gempabumi, yaitu memprediksi kapan terjadi gempa bumi, merupakan hal yang paling tidak dapat mereka lakukan. Dikarenakan para peneliti yang memiliki otoritas dalam riset gempabumi tidak dapat memberikan informasi pasti kapan terjadinya gempabumi. Menyebabkan banyak orang yang berusaha melakukan prediksi gempa bumi sendiri. Mereka yang tidak memiliki dasar ilmu kebumian memadai, dan hanya berbekal pencarian informasi melalui situs internet, menyebarkan berita-berita kemungkinan terjadinya gempabumi pada masyarakat luas. Yang terjadi kemudian adalah kepanikan-kepanikan di masyarakat. Yang terbaru adalah isu akan terjadinya gempa pada tanggal 25 Juli 2006 yang disebarkan melalui SMS di Jakarta.
Jalan panjang riset prediksi gempabumi Pada awal tahun 1970, usaha untuk memprediksi gempabumi berkembang dengan pesat di Jepang, Rusia, Cina dan Amerika. Target utama dari penelitian prediksi gempabumi yaitu untuk menentukan dengan teliti, kapan, dimana dan seberapa besar gempabumi akan terjadi. Para peneliti berharap untuk memberikan informasi ramalan terjadi gempabumi seperti meramal kondisi cuaca. Jepang telah memulai penelitian prediksi gempabumi sejak tahun 1892, satu tahun sesudah gempabumi Nobi menghancurkan Jepang Tengah. Saat itu dibentuk oleh kerajaan sebuah komite investigasi gempabumi yang bertugasmengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan prediksi gempabumi seperti: kenaikan suhu dibawah tanah, kemiringan tanah, variasi kemagnetan, perilaku binatang dan sebagainya.
Program yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan menghabiskan dana lebih dari 1.4 milyar dolar Amerika pada tahun 1999, berakhir dengan kekecewaan karena tidak ada satupun gempabumi yang berhasil diprediksi di Jepang pada rentang tersebut. Terutama sesudah gempabumi besar Kobe yang menewaskan lebih dari 6000 jiwa, serta menghancurkan wilayah Hanshin dan Awaji. Para peneliti gempabumi mendapatkan kritikan yang tajam atas ketidakmampuan mereka dalam memberikan peringatan dini. Bahkan 112 tahun sesudah program prediksi gempa dicanangkan di Jepang, dengan lebih dari 1200 alat GPS (Global Positioning System) serta ribuan sensor seismik, para peneliti Jepang tetap gagal untuk menemukan secuil bukti yang bisa dijadikan dasar untuk memprediksi gempa di daerah Tokachi-Hokkaido magnitud 8 pada 26 Desember 2003. Mengapa gempabumi sulit untuk diprediksi? Bumi yang kita tinggali ini terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan yang paling dalam yaitu bagian inti yang sangat padat. Kemudian lapisan inti dilapisi oleh mantel yg lebih ringan, dan bagian luarnya dilapisi lagi oleh lapisan kerak bumi yang kaku. Sedangkan mantel walaupun keras tapi tidak kaku dan masih bisa dibengkokan bersifat visco-elastis. Karena panas mantel bergerak bersirkulasi dan membentuk arus konveksi. Pelan tapi pasti, mantel panas ini menggerakan juga
lapisan diatasnya. Yaitu lapisan kerak atau lempeng dengan jumlah lusinan yang membentuk muka luar dari bumi kita. Skala waktu dari proses arus konveksi di dalam mantel yaitu 100 juta tahun (10 pangkat 8). Padahal instrumentasi seismik baru dimulai sekitar 150 tahun lalu, dan lebih intensifnya kira-kira 30 tahun lalu. Sehingga kekurangan data untuk menjelaskan seluruh proses dalam siklus gempabumi yaitu dalam orde jutaan tahun. Pengetahuan manusia mengenai gempabumi baru seujung kuku saja. Sebagai perbandingan dalam ramalan cuaca, apabila kita mempunyai 150 tahun data pengamatan taifun, maka paling tidak kita akan punya informasi 150 siklus dari taifun. Sehingga memungkinkan kita untuk memprediksi kedatangan taifun pada tahun mendatang. Berbeda dengan gempabumi yang siklusnya hanya didapatkan dari satu atau dua kejadian saja. Para ilmuman gempabumi di seluruh dunia, masih berdebat apakah waktu, tempat dan magnitud gempabumi dapat diprediski dengan teliti. Beberapa topik perdebatan misalnya elektronik signal (EM) sebelum gempa, konsep dari selforganized critically (SOC), awan yang muncul saat gempa, evaluasi statistik dan lain sebagainya. Keberhasilan Cina pada tahun 1975 yang mengevakuasi 120 ribu warganya dua hari sebelum gempabumi dengan magnitud 7.3 menghantam Haicheng, dianggap sebagai kebetulan saja. Karena gempabumi di Haicheng diawali oleh gempa-gempa kecil. Padahal jarang sekali gempabumi besar diawali oleh gempa kecil (foreshock). Satu tahun kemudian gempabumi dengan magnitud 7.8 mengakibatkan 250 ribu korban jiwa di kota Tangshan, tanpa diawali gempa kecil dan fenomena awal lainnya. Dan sesudah itu tidak pernah ada evakuasi warga di belahan dunia manapun beberapa saat sebelum
gempabumi Apakah riset gempabumi hanya jalan di tempat? Penelitian gempabumi dalam beberapa tahun belakangan ini telah menghasilkan penemuan yang signifikan. Mekanisme dan proses terjadinya gempabumi yang beberapa tahun belakangan masih merupakan misteri kini telah dapat dijabarkan dengan lebih baik. Hampir setiap hari di jurnal-jurnal utama gempabumi dapat ditemui penemuan yang tidak terduga sebelumnya. Efek dari pergeseran tanah akibat gempabumi yang mungkin terjadi pada suatu bidang sesar, saat ini telah dapat diprediksi dengan sangat teliti, sehingga memungkinkan para insinyur untuk membangun bangunan dengan ketahanan yang diperlukan. Begitu pula dengan prediksi gempabumi dalam jangka yang panjang telah membantu perencana kota, untuk menghidari pembangunan pada wilayah yang rawan bencana gempabumi, serta studi mitigasi gempabumi.
Saat ini beberapa negara maju termasuk Jepang tengah mengembangkan sistem peringatan dini terhadap bahaya gempabumi. Sistem ini berdasarkan pada kemampuan untuk mengestimasi dengan sangat cepat dan akurat posisi gempabumi dan kekuatan gempabumi berdasarkan kedatangan gelombang awal gempabumi (gelombang P). Gelombang P merupakan gelombang yang tercepat tetapi memiliki efek merusak yang rendah. Kemampuan mendeteksi cepat gelombang ini memberikan waktu beberapa detik bagi instalasi energi nuklir untuk mematikan reaktornya, menghentikan laju kereta cepat, memberikan peringatan pada warga untuk berlindung beberapa saaat sebelum gelombang yang lebih merusak datang. Perlunya cetak biru riset gempabumi Terjadinya rentetan gempabumi besar di Sumatra dan Jawa, mengingatkan kita untuk sesegera mungkin membuat cetak biru penelitian gempabumi di Indonesia. Belajar dari pengalaman Jepang dan Amerika yang telah memulai riset gempa bumi ratusan tahun lalu, cetak biru yang penelitian gempabumi di Indonesia harus berproyeksi pada prediksi jangka panjang dari gempabumi. Juga pendidikan pada masyarakat untuk memahami potensi gempabumi di wilayahnya, serta upaya yang harus dilakukan untuk meminimalisasi kerusakan yang mungkin ada bila gempabumi terjadi. Sehingga tidak ada lagi kepanikan akan isu-isu prediksi gempabumi. Cetak biru tersebut, harus terukur, realistis dan melibatkan instansi penelitian terkait serta perguruan tinggi. Beberapa prioritas penting dalam cetak biru penelitian gempabumi di Indonesia yaitu:
1. Menyiapkan peta bahaya gempabumi yang terintegrasi. Didalam peta tersebut mencakup hasil terbaru dari pemetaan sesar aktif, studi probabilitas terjadinya gempabumi berdesarkan data pergerakan tanah, prediksi dari besarnya pergerakan tanah akibat gempabumi berkaitan dengan kekuatan struktur bangunan, dan penataan wilayah.
2.Meningkatkan kemampuan pengamatan gempabumi pada wilayah- wilayah tertentu, dengan menambah jumlah stasiun seismik serta station GPS.
3.Menyiapkan sistem informasi gempabumi dan peringatan dini terhadap tsunami. Sistem ini harus memberikaninformasi seketika pada masyarakat bila terjadi gempabumi, serta perhitungan pemodelan waktu dan tinggi tsunami.
4. Mempromosikan pendidikan gempabumi pada masyakarat, baik melalui kurikulum pendidikan, selebaran informasi dalam bentuk buku, poster, komik ataupun iklan layanan masyarakat.

Prediksi Harga Minyak Tahun 2009

Akhir tahun seperti biasa dihiasi oleh ramalan-ramalan. Kali ini akan kita lihat berapa harga minyak tahun depan. Akankah harga minyak masihbisa diprediksikan, ataukah masih perlukah kita meramal harga minyak ?


Memperkirakan harga minyak selalu dipakai dalam setiap penyusunan anggaran, ntah APBN, maupun anggaran proyek dari perusahaan-perusahaan besar. Hal ini disebabkan harga minyak sudah menjadi “nilai jangkar” atau Achoring Price terhadap harga-harga lain.

HARGA MINYAK SEPANJANG TAHUN 2008


Perjalanan harga minyak tahun 2008 ini merupakan perjalanan harga yang sangat dramatis. Di tahun 2008 harga minyak mentah ini diawali dengan harga sekitar 90 $/bbl minyak mulai merangkak naik. Puncaknya minyak berada diatas 150 $/bbl. Harga diatas 125 $ ini bertengger sekitar 3 bulan (May-Jun-July). Penyebabnya diperkirakan muliple mulai dari supply yang kurang, OPEC yang diduga memangkas produksi, hingga spekulan dan bahkan future trading dengan delivery 3-6 bulan kedepan.
Harga mulai merosot terus ketika bulan July. Penurunan harga ini sangat tajam hingga sekitar bulan September. Kenaikan sementara di awal Oktober tidak mampu menahan longsornya harga ini akibat ekonomi amrik yang ikutan terjerembab.
Seperti yang telah saya prediksikan ketika Majalah Eksplo interview, harga yang terus meluncur yang tak terkontrol lagi ini yang saya perkirakan akibat dua hal.
Pertama, penurunan permintaan karena pelemahan daya beli. Kedua, praktek perdagangan komoditas di pasar berjangka. Maksudnya, minyak yang saat ini diproduksi adalah minyak yang dijual-belikan enam bulan lalu.
Lonjakan harga minyak hingga ke rekor tertinggi di atas US$147 per barel pada Juli 2008, salah satunya disebabkan oleh perdagangan berjangka (future trading). Pada Mei hingga awal Juni 2008, minyak dijajakan pada harga di atas US$125 per barel, tetapi untuk pengiriman tiga hingga enam bulan berikutnya. Artinya, pengiriman minyak dari produsen ke konsumen baru dilakukan saat ini. Tetapi, pembayaran dilakukan sejak enam bulan lalu.
Jadi, seolah-olah kebutuhan minyak saat Desember ini merosot. Padahal, mungkin konsumsinya tetap. Tapi, di pasar berjangka permintaan minyak terlihat seolah-olah menurun.



PREDIKSI MINYAK YANG SELALU BERUBAH




sebenernya perkiraan harga minyak bukanlah harga mati. Perkiraan ini sangat dinamis, dan selalu berubah-ubah.
IEA - International Energy Agency, dan juga DOE (US) selalu merubah prediksi harganya, demikian juga Merryl Lunch yang dianggap guru dalam prediksi minyak pun selalu mengkoreksi prediksinya. Lihat gambar diatas bagaimana prediksi Melrrly Lynch berubah dalam waktu yang sangat cepat.
Ramalan Merryl Lynch pada bulan Juni masih memperkirakan tahun 2009 akan 107$ barel, dan ramalannya selalu berubah menurun hingga pada bulan Desember meramal tahun 2009 harga terendahnya hanya 25$/bbl. Kalau kita hanya ikut-ikutan memprediksikan harga tentusaja kita akan “terjebak” dalam permainan Merryl Lynch dalam mengantisipasi harga minyak dimasa mendatang.
Banyak perusahaan yang menggunakan kriterianya sendiri, demikian juga Indonesia memiliki prediksi harga migas dalam menyusun APBN. Namun harus dimengerti bahwa prediksi ini harus selalu diikuti dan bukan harga mati sepanjang satu proyek anggaran (APBN) yang sedang berjalan. Pelajaran yang penting dalam soal harga minyak ini adalah : ” Berapapun angka atau harga-nya, minyak bumi selalu mahal dan harus “diikuti” pergerakan-nya. Bagaimana dengan lapangan pekerjaan ?

Sabtu, 08 November 2008

Adventure

Happy Ramadhan

Ramadhan (Ramadan) is the 9th month of the Islamic calendar. It's when Muslims all over the world spend 30 days fasting and bettering themselves in principles of faith.
Muslims are also expected to put more effort into following the teachings of Islam by refraining from sexual intercourse (during fasting), violence, anger, envy, greed, lust, angry and sarcastic retorts, and gossip. People are meant to try to get along with each other better than they normally might. All obscene and irreligious sights and sounds are to be avoided. Purity of both thought and action is important. The fast is an exacting act of deep personal worship in which Muslims seek a raised level of closeness to God. The act of fasting is said to redirect the heart away from worldly activities, its purpose being to cleanse the inner soul and free it from harm.
Fasting during Ramadan is not obligatory for several groups for whom it would be excessively problematic. Children before the onset of puberty are not required to fast, though some do. However, if puberty is delayed, fasting becomes obligatory for males and females after a certain age. According to the Qur'an, if fasting would be dangerous to someone's health, such as a person with an illness or medical condition (this can include the elderly), that person is excused.

Siklus Hidrologi





Sirkulasi air yang berpola siklus itu tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi, dan transpirasi.Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara diantaranya melaui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.

Materi Pengembangan Media Pembelajaran GEO (Slide Power Point)

Pengertian Hidrologi

Studi tentang air dirasakan semakin penting, terutama di negara-negara berkembang yang masih masalah budaya dan teknologi dalam penelolaan air yang sesuai dengan lingkungannya. Cabang ilmu yang mempelajari tentang air tersebut adalah Hidrologi. Secara etimologi, berasal dari dua kata, yaitu hidro = air, dan logos = ilmu. Dengan demikian secara umum hidrologi dapat berarti ilmu yang mempelajari tentang air.
Konsep yang umum itu, kini telah berkembang sehingga cakupan obyek hidrologi menjadi lebih jelas. Menurut Marta dan Adidarma (1983), bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang terjadinya, pergerakan dan distribusi air di bumi, baik di atas maupun dibawah permukaan bumi, tentang sifat fisik, kimia air serta reaksinya terhadap lingkungan dan hubunganya dengan kehidupan.
Berdasarkan konsep tersebut, hidrologi memiliki ruang lingkup atau cakupan yang luas. Secara substansial, cakupan bidang ilmu itu meliputi: asal mula dan proses terjadinya air, pergerakan dan penyebaran air, sifat-sifat air, keterkaitan air dengan lingkungan dan kehidupan.
Hidrologi merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Studi hidrologi meliputi berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya, antara lain dalam keadaan cair, padat, gas, dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan tanah, distribusinya, penyebarannya, gerakannya dan lain sebagainya. Secara meteorologis, air merupakan unsur pokok paling penting dalam atmofer bumi. Air terdapat sampai pada ketinggian 12.000 hingga 14.000 meter, dalam jumlah yang kisarannya mulai dari nol di atas beberapa gunung serta gurun sampai empat persen di atas samudera dan laut. Bila seluruh uap air berkondensasi (atau mengembun) menjadi cairan, maka seluruh permukaan bumi akan tertutup dengan curah hujan kira-kira sebanyak 2,5 cm.

Obyek Material Hidrologi

Haberdasher konsep tersebut, hidrologi memiliki ruang lingkup atau cakupan yang luas. Secara substansial, cakupan bidang ilmu itu meliputi:asal mula dan proses terjadinya air pergerakan dan penyebaran air sifat-sifat air keterkaitan air dengan lingkungan dan kehidupan Hidrologi merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Studi hidrologi meliputi berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya, antara lain dalam keadaan cair, padat, gas, dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan tanah, distribusinya, penyebarannya, gerakannya dan lain sebagainya. Secara meteorologis, air merupakan unsur pokok.

Cabang Hidrologi

(1). Limnologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang air yang terdapat pada suatu depresi yang tergenang pada suatu cekungan, (2). Potamologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang air yang terdapat di atas permukaan tanah dan merupakan air yang mengalir,(3). Oceanografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari morfologi,topografi,biologi laut dan lautan. (4). Kriologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang es dan salju, (5). Hidrometeorologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang poblematika Hidrologi yang berkaitan dengan meteorologi,(6). Geohidrologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang terdapatnya gerakan air di bawah permukaan tanah.

Siklus Hidrologi

Singularity air yang berpola siklus itu tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi, dan transpirasi.Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara diantaranya melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi, dan transpirasi.
Proses Evaporasi


Evaporasi/transpirasi adalah Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es. Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air memiliki cukup energi untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang sebagai uap air yang tidak terlihat di atmosfir. Sekitar 95.000 mil kubik air menguap ke angkasa setiap tahunnya. Hampir 80.000 mil kubik menguapnya dari lautan. Hanya 15.000 mil kubik berasal dari daratan, danau, sungai, dan lahan yang basah, dan yang paling penting juga berasal dari tranpirasi oleh daun tanaman yang hidup. Proses semuanya itu disebut Evapotranspirasi.
Proses Infiltrasi

Infiltrasi/Perkolasi ke dalam tanah Adalah Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan. net

Selasa, 04 November 2008


Ekosistem Lahan Basah

Kondisi Lahan Basah di Indonesia

Ekosistem lahan basah (wetland) merupakan sumberdaya alam yang begitu besar nilainya bagi masyarakat, kontribusi bagi keanekaragaman hayati, lumbung pangan, penopang ekosistem lainnya, dan pengatur iklim makro. Namun demikian, keberadaan ekosistem lahan basah masih dipandang sebagai lahan tidur (terlantar) yang setiap saat dapat dikonversikan menjadi aktivitas industri dan lainnya. Era desentralisasi kepada Daerah akan menjadi faktor berikut yang menentukan masa depan pengelolaan ekosistem lahan basah. Apakah pemerintah Daerah akan melanjutkan kebijkan yang eksploitatif atau lebih memperhatikan prinsip keberlanjutan dan berbasis masyarakat?
Lahan Basah di Indonesia mengalami berbagai tekanan menuju kehancuran dan deforestasi secara drastis. Laju degradasi hutan mencapai 2 juta hektar per tahun. Konversi hutan, illegal logging, dan kebakaran hutan merupakan ancaman utama lahan basah di Indonesia. Konversi hutan dalam skala besar, terutama dilakukan untuk perkebunan monokulter, terutama sawit, HTI, pertambangan, dan pertambakan udang.
Kebakaran hutan menjadi isu nasional setiap tahun sejak 1996. Musim kemarau dan pembukaan ladang berpindah dituduhkan sebagai penyebab kebakaran hutan. Kebakaran hutan yang merupakan kombinasi faktor kelalaian dan kekeringan terjadi di kawasan gambut. Bekas lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan, yang kini berubah menjadi kering kerontang di musim kemarau, menjadi langganan kebakaran hutan tiap tahunnya.
Lahan basah memiliki peranan yang penting dalam menyumbang keragaman hayati, pengatur iklim dunia, sumber pangan, sumber sirkulasi air, sumber perikanan, dan obat-obatan bagi masyarakat setempat. Masyarakat lokal memiliki tingkat ketergantungan kehidupan yang cukup besar pada ekosistem lahan basah. Di beberapa tempat, terdapat kearifan lokal dan sistem pengelolaan dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada. Namun demikian, tidak semua masyarakat yang hidup bergantung pada ekosistem lahan basah memiliki pengaturan dan kepedulian terhadap keberlanjutan ekosistem lahan basah. Pola pemanfaatan yang bersifat merusak dan eksploitatif berlangsung, baik oleh masyarakat setempat maupun pendatang, tanpa ada upaya pencegahan.
Alih fungsi lahan basah (konversi) berlangsung begitu saja dalam waktu singkat. Dibandingkan ekosistem hutan daratan tinggi, rasa kepemilikan terhadap lahan basah oleh masyarakat setempat tidak begitu kuat. Interaksi budaya dan konsep religi masyarakat terhadap hutan dataran tinggi lebih kuat dibandingkan terhadap ekosistem lahan basah. Pada sejumlah lahan basah, tidak ditemukan pararaksonomi, organisasi tani maupun kelembagaan sosial yang terkait dengan lahan basah.
Ekosistem lahan basah dipandang sebagai tanpa pemilik, belum tergarap dan terlantar. Pandangan ini hampir sejalan dengan Pemerintah yang menganggap lahan basah sebagai lahan potensial untuk kepentingan produksi, melalui alih fungsi. Ditinjau dari regulasi yang ada, pengaturan pada ekosistem lahan basah masih sangat minim. Namun demikian, pandangan, ikatan batin, dan faktor pendorong konservasi maupun eksploitasi oleh masyarakat atas lahan basah di suatu tempat bersifat khas dan site specifik.
Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) Satu Juta Hektar merepresikan pandangan tersebut dan merupakan bencana lingkungan terbesar di Indonesia. Ini dilakukan untuk mengantisipasi krisis swasembada beras, dengan pertimbangan bahwa di Jawa luasan areal pertanian sawah teknis semakin tahun semakin berkurang. Ditunjuknya Kalimantan Tengah karena hanya satu-satunya Propinsi yang mempunyai hamparan seluas satu juta hektar. Kebijakan ini merubah sistem tata air, keadaan iklim mikro, dan penguasaan tanah. Kebijakan ini telah menimbulkan dampak lingkungan negatif, baik secara fisik, kimia, biologi, dan sosial-ekonomi pada masyarakat di lokasi proyek. Proyek ini telah menyebabkan degradasi kualitas lingkungan hidup dengan mengkonversi hutan tropis seluas 638.000 ha menjadi persawahan dan 362.000 ha menjadi areal pertanian, perumahan, dan kawasan konservasi.
Pengalihan fungsi lahan basah diiringi dengan konflik sosial antara masyarakat dengan investor, dan pemerintah maupun antar kelompok masyarakat (konflik horizontal), perpindahan aliran sumberdaya (manfaat).

Kawasan Konservasi di Era Otonomi

Kebijakan desentralisasi (Otonomi Daerah) di terapkan di Indonesia sejak 1999. Desentralisasi meliputi bebagai aspek pemerintahaan, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dan konservasi. Ternyata, desentralisasi menimbulkan persoalan baru dalam pengelolaan sumberdaya alam dan wewenang di konservasi. Desentralisasi bagaikan hanya mengalihkan eksploitasi yang otoriter dan sentralistik di Jakarta menjadi wewenang tanpa kendali oleh raja-raja kecil baru, yakni Kepala Pemerintahan Daerah. Sejumlah daerah kini berlomba-lomba mengejar PAD dengan semangat eksploitasi yang sama seperti sebelumnya.
Kawasan konservasi berada dalam ancaman ataupun peluang serius di bawah era desentralisasi tergantung komitmen Pemerintah. Peluang adanya perbaikan dalam pengelolaan lahan basah menjadi lebih terbuka karena adanya desentralisasi. Seperti apa wajah pengaturan lahan basah pada era desentralisasi saat ini merupakan subyek yang perlu dicermati.