SELAMAT DATANG DI BLOG PENAMBANG ILMU

Sabtu, 08 November 2008

Adventure

Happy Ramadhan

Ramadhan (Ramadan) is the 9th month of the Islamic calendar. It's when Muslims all over the world spend 30 days fasting and bettering themselves in principles of faith.
Muslims are also expected to put more effort into following the teachings of Islam by refraining from sexual intercourse (during fasting), violence, anger, envy, greed, lust, angry and sarcastic retorts, and gossip. People are meant to try to get along with each other better than they normally might. All obscene and irreligious sights and sounds are to be avoided. Purity of both thought and action is important. The fast is an exacting act of deep personal worship in which Muslims seek a raised level of closeness to God. The act of fasting is said to redirect the heart away from worldly activities, its purpose being to cleanse the inner soul and free it from harm.
Fasting during Ramadan is not obligatory for several groups for whom it would be excessively problematic. Children before the onset of puberty are not required to fast, though some do. However, if puberty is delayed, fasting becomes obligatory for males and females after a certain age. According to the Qur'an, if fasting would be dangerous to someone's health, such as a person with an illness or medical condition (this can include the elderly), that person is excused.

Siklus Hidrologi





Sirkulasi air yang berpola siklus itu tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi, dan transpirasi.Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara diantaranya melaui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.

Materi Pengembangan Media Pembelajaran GEO (Slide Power Point)

Pengertian Hidrologi

Studi tentang air dirasakan semakin penting, terutama di negara-negara berkembang yang masih masalah budaya dan teknologi dalam penelolaan air yang sesuai dengan lingkungannya. Cabang ilmu yang mempelajari tentang air tersebut adalah Hidrologi. Secara etimologi, berasal dari dua kata, yaitu hidro = air, dan logos = ilmu. Dengan demikian secara umum hidrologi dapat berarti ilmu yang mempelajari tentang air.
Konsep yang umum itu, kini telah berkembang sehingga cakupan obyek hidrologi menjadi lebih jelas. Menurut Marta dan Adidarma (1983), bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang terjadinya, pergerakan dan distribusi air di bumi, baik di atas maupun dibawah permukaan bumi, tentang sifat fisik, kimia air serta reaksinya terhadap lingkungan dan hubunganya dengan kehidupan.
Berdasarkan konsep tersebut, hidrologi memiliki ruang lingkup atau cakupan yang luas. Secara substansial, cakupan bidang ilmu itu meliputi: asal mula dan proses terjadinya air, pergerakan dan penyebaran air, sifat-sifat air, keterkaitan air dengan lingkungan dan kehidupan.
Hidrologi merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Studi hidrologi meliputi berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya, antara lain dalam keadaan cair, padat, gas, dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan tanah, distribusinya, penyebarannya, gerakannya dan lain sebagainya. Secara meteorologis, air merupakan unsur pokok paling penting dalam atmofer bumi. Air terdapat sampai pada ketinggian 12.000 hingga 14.000 meter, dalam jumlah yang kisarannya mulai dari nol di atas beberapa gunung serta gurun sampai empat persen di atas samudera dan laut. Bila seluruh uap air berkondensasi (atau mengembun) menjadi cairan, maka seluruh permukaan bumi akan tertutup dengan curah hujan kira-kira sebanyak 2,5 cm.

Obyek Material Hidrologi

Haberdasher konsep tersebut, hidrologi memiliki ruang lingkup atau cakupan yang luas. Secara substansial, cakupan bidang ilmu itu meliputi:asal mula dan proses terjadinya air pergerakan dan penyebaran air sifat-sifat air keterkaitan air dengan lingkungan dan kehidupan Hidrologi merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Studi hidrologi meliputi berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya, antara lain dalam keadaan cair, padat, gas, dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan tanah, distribusinya, penyebarannya, gerakannya dan lain sebagainya. Secara meteorologis, air merupakan unsur pokok.

Cabang Hidrologi

(1). Limnologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang air yang terdapat pada suatu depresi yang tergenang pada suatu cekungan, (2). Potamologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang air yang terdapat di atas permukaan tanah dan merupakan air yang mengalir,(3). Oceanografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari morfologi,topografi,biologi laut dan lautan. (4). Kriologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang es dan salju, (5). Hidrometeorologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang poblematika Hidrologi yang berkaitan dengan meteorologi,(6). Geohidrologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang terdapatnya gerakan air di bawah permukaan tanah.

Siklus Hidrologi

Singularity air yang berpola siklus itu tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi, dan transpirasi.Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara diantaranya melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi, dan transpirasi.
Proses Evaporasi


Evaporasi/transpirasi adalah Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es. Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air memiliki cukup energi untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang sebagai uap air yang tidak terlihat di atmosfir. Sekitar 95.000 mil kubik air menguap ke angkasa setiap tahunnya. Hampir 80.000 mil kubik menguapnya dari lautan. Hanya 15.000 mil kubik berasal dari daratan, danau, sungai, dan lahan yang basah, dan yang paling penting juga berasal dari tranpirasi oleh daun tanaman yang hidup. Proses semuanya itu disebut Evapotranspirasi.
Proses Infiltrasi

Infiltrasi/Perkolasi ke dalam tanah Adalah Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan. net

Selasa, 04 November 2008


Ekosistem Lahan Basah

Kondisi Lahan Basah di Indonesia

Ekosistem lahan basah (wetland) merupakan sumberdaya alam yang begitu besar nilainya bagi masyarakat, kontribusi bagi keanekaragaman hayati, lumbung pangan, penopang ekosistem lainnya, dan pengatur iklim makro. Namun demikian, keberadaan ekosistem lahan basah masih dipandang sebagai lahan tidur (terlantar) yang setiap saat dapat dikonversikan menjadi aktivitas industri dan lainnya. Era desentralisasi kepada Daerah akan menjadi faktor berikut yang menentukan masa depan pengelolaan ekosistem lahan basah. Apakah pemerintah Daerah akan melanjutkan kebijkan yang eksploitatif atau lebih memperhatikan prinsip keberlanjutan dan berbasis masyarakat?
Lahan Basah di Indonesia mengalami berbagai tekanan menuju kehancuran dan deforestasi secara drastis. Laju degradasi hutan mencapai 2 juta hektar per tahun. Konversi hutan, illegal logging, dan kebakaran hutan merupakan ancaman utama lahan basah di Indonesia. Konversi hutan dalam skala besar, terutama dilakukan untuk perkebunan monokulter, terutama sawit, HTI, pertambangan, dan pertambakan udang.
Kebakaran hutan menjadi isu nasional setiap tahun sejak 1996. Musim kemarau dan pembukaan ladang berpindah dituduhkan sebagai penyebab kebakaran hutan. Kebakaran hutan yang merupakan kombinasi faktor kelalaian dan kekeringan terjadi di kawasan gambut. Bekas lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan, yang kini berubah menjadi kering kerontang di musim kemarau, menjadi langganan kebakaran hutan tiap tahunnya.
Lahan basah memiliki peranan yang penting dalam menyumbang keragaman hayati, pengatur iklim dunia, sumber pangan, sumber sirkulasi air, sumber perikanan, dan obat-obatan bagi masyarakat setempat. Masyarakat lokal memiliki tingkat ketergantungan kehidupan yang cukup besar pada ekosistem lahan basah. Di beberapa tempat, terdapat kearifan lokal dan sistem pengelolaan dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada. Namun demikian, tidak semua masyarakat yang hidup bergantung pada ekosistem lahan basah memiliki pengaturan dan kepedulian terhadap keberlanjutan ekosistem lahan basah. Pola pemanfaatan yang bersifat merusak dan eksploitatif berlangsung, baik oleh masyarakat setempat maupun pendatang, tanpa ada upaya pencegahan.
Alih fungsi lahan basah (konversi) berlangsung begitu saja dalam waktu singkat. Dibandingkan ekosistem hutan daratan tinggi, rasa kepemilikan terhadap lahan basah oleh masyarakat setempat tidak begitu kuat. Interaksi budaya dan konsep religi masyarakat terhadap hutan dataran tinggi lebih kuat dibandingkan terhadap ekosistem lahan basah. Pada sejumlah lahan basah, tidak ditemukan pararaksonomi, organisasi tani maupun kelembagaan sosial yang terkait dengan lahan basah.
Ekosistem lahan basah dipandang sebagai tanpa pemilik, belum tergarap dan terlantar. Pandangan ini hampir sejalan dengan Pemerintah yang menganggap lahan basah sebagai lahan potensial untuk kepentingan produksi, melalui alih fungsi. Ditinjau dari regulasi yang ada, pengaturan pada ekosistem lahan basah masih sangat minim. Namun demikian, pandangan, ikatan batin, dan faktor pendorong konservasi maupun eksploitasi oleh masyarakat atas lahan basah di suatu tempat bersifat khas dan site specifik.
Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) Satu Juta Hektar merepresikan pandangan tersebut dan merupakan bencana lingkungan terbesar di Indonesia. Ini dilakukan untuk mengantisipasi krisis swasembada beras, dengan pertimbangan bahwa di Jawa luasan areal pertanian sawah teknis semakin tahun semakin berkurang. Ditunjuknya Kalimantan Tengah karena hanya satu-satunya Propinsi yang mempunyai hamparan seluas satu juta hektar. Kebijakan ini merubah sistem tata air, keadaan iklim mikro, dan penguasaan tanah. Kebijakan ini telah menimbulkan dampak lingkungan negatif, baik secara fisik, kimia, biologi, dan sosial-ekonomi pada masyarakat di lokasi proyek. Proyek ini telah menyebabkan degradasi kualitas lingkungan hidup dengan mengkonversi hutan tropis seluas 638.000 ha menjadi persawahan dan 362.000 ha menjadi areal pertanian, perumahan, dan kawasan konservasi.
Pengalihan fungsi lahan basah diiringi dengan konflik sosial antara masyarakat dengan investor, dan pemerintah maupun antar kelompok masyarakat (konflik horizontal), perpindahan aliran sumberdaya (manfaat).

Kawasan Konservasi di Era Otonomi

Kebijakan desentralisasi (Otonomi Daerah) di terapkan di Indonesia sejak 1999. Desentralisasi meliputi bebagai aspek pemerintahaan, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dan konservasi. Ternyata, desentralisasi menimbulkan persoalan baru dalam pengelolaan sumberdaya alam dan wewenang di konservasi. Desentralisasi bagaikan hanya mengalihkan eksploitasi yang otoriter dan sentralistik di Jakarta menjadi wewenang tanpa kendali oleh raja-raja kecil baru, yakni Kepala Pemerintahan Daerah. Sejumlah daerah kini berlomba-lomba mengejar PAD dengan semangat eksploitasi yang sama seperti sebelumnya.
Kawasan konservasi berada dalam ancaman ataupun peluang serius di bawah era desentralisasi tergantung komitmen Pemerintah. Peluang adanya perbaikan dalam pengelolaan lahan basah menjadi lebih terbuka karena adanya desentralisasi. Seperti apa wajah pengaturan lahan basah pada era desentralisasi saat ini merupakan subyek yang perlu dicermati.

Rabu, 22 Oktober 2008

Gejolak Aktivitas Matahari Berpengaruh Pada Iklim

Relatif seringnya hujan pada bulan Agustus tahun ini di beberapa daerah di Jawa Barat menimbulkan pertanyaan apakah iklim sudah berubah. Bagi peneliti matahari dan antariksa pertanyaan yang timbul adalah apakah aktivitas matahari juga mempengaruhinya. Saat ini matahari dalam kondisi aktif, dengan aktivitas magnetik, lontaran partikel, dan pancaran radiasi yang meningkat. Aktivitas matahari berulang sekitar sebelas tahunan. Hal pertama yang dilihat adalah data curah hujan jangka panjang. Untuk Bandung, data curah hujan bulanan tahun 1953-1975 memang menunjukkan adanya kecenderungan curah hujan tinggi pada bulan Agustus justru terjadi saat aktivitas matahari maksimum. Misalnya, curah hujan Agustus tertinggi pada rentang waktu itu ternyata terjadi sekitar saat matahari maksimum: 1956 (curah hujan 220 mm), 1958 (231 mm), dan 1968 (197 mm). Matahari maksimum terjadi pada 1957 dan 1968. Tetapi analisis awal itu belum bersifat konklusif. Sebab, bila dibandingkan dengan data Jakarta yang lebih panjang, tahun 1864-1985, kecenderungan adanya peningkatan curah hujan bulan Agustus sekitar aktivitas maksimum memang tampak pada rentang waktu 1900–1944, tetapi ternyata tidak tampak pada tahun-tahun sebelum dan sesudahnya. Hal ini juga bisa berarti bahwa keterkaitan dengan aktivitas matahari itu tidak bersifat permanen, kadang muncul dalam rentang waktu tertentu, kadang hilang. Walaupun masih belum dapat disimpulkan secara utuh keterkaitan aktivitas matahari dengan curah hujan serta parameter iklim lainnya, tetapi banyak bukti empirik yang menunjukkan bahwa gejolak aktivitas matahari memang mempengaruhi variasi iklim di bumi.
Variabilitas Iklim
Matahari adalah sumber energi utama bagi bumi. Pemanasan matahari pada siang hari dan pendinginan pada malam hari dalam skala harian, atau musim panas dan musim dingin dalam skala tahunan, berperan besar pada gerakan massa udara dalam bentuk angin, baik dalam skala lokal maupun global. Demikian juga penguapan air di permukaan bumi oleh matahari sehingga menjadi awan dan dari awan itu turun hujan kemudian airnya mengalir ke tempat yang rendah, tampak jelas peranan matahari dalam siklus hidrologi yang merupakan gerakan massa air. Faktor cahaya matahari dalam proses fotosintesis pada tumbuhan menunjukkan perannya dalam aktivitas biologi yang menunjang kehidupan makhluk hidup di bumi, baik dalam bentuk bahan makanan maupun dalam siklus karbon dioksida dan oksigen Iklim sebagai suatu keadaan cuaca rata-rata jangka panjang ternyata bervariasi atau bahkan berubah. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan itu bisa berasal dari aktivitas manusia (antropogenik) atau dari antariksa (kosmogenik). Faktor antropogenik bersumber dari peningkatan emisi gas rumah kaca (gas yang berefek pemanasan seperti di dalam rumah kaca), terutama karbon dioksida yang berasal dari industri dan transportasi. Peningkatan karbon dioksida secara global dikaitkan dengan munculnya gejala pemanasan global. Menurut salah satu model sistem iklim global, peningkatan karbon dioksida dua kali lipat bisa meningkatkan suhu rata-rata global sekitar 1,5 – 4,5 derajat. Sementara itu bukti pengamatan karbon dioksida atmosfer yang diukur di berbagai tempat di dunia menunjukkan peningkatan dan suhu udara permukaan global pun secara umum menunjukkan kecenderungan meningkat. Di sisi lain, faktor antropogenik ternyata tidak selalu bisa menjelaskan gejala perubahan iklim. Ternyata pada saat aktivitas antropogenik terus meningkat, terjadi juga penurunan suhu udara permukaan, khususnya sekitar 1940–1970. Data-data suhu permukaan global menunjukkan adanya penurunan walaupun karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya terus meningkat. Hal ini bisa menjadi petunjuk adanya faktor lain yang mempengaruhi perubahan iklim, yaitu faktor kosmogenik terutama faktor aktivitas matahari. Faktor mana yang dominan di antara faktor antropogenik dan kosmogenik, masih menjadi perdebatan para peneliti. Salah satu penelitian menggunakan model iklim yang memperhitungkan pertukaran panas antara darat dan laut, antara atmosfer dan lautan, antara belahan bumi Utara dan Selatan, serta parameterisasi percampuran di lautan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengaruh gas rumah kaca lebih mendominasi daripada pengaruh variabilitas matahari. Sebaliknya penelitian lainnya menunjukkan bahwa kontribusi faktor aktivitas matahari lebih dominan daripada faktor gas rumah kaca terhadap perubahan suhu global (udara dan daratan). Model iklim yang digunakan dalam penelitian kedua adalah model pencampuran lautan dan koservasi energi musiman, mirip dengan penelitian pertama tersebut. Faktor gas rumah kaca hanya menunjukkan perubahan suhu global yang monoton naik, sedangkan faktor aktivitas matahari menunjukkan perubahan bervariasi mendekati perubahan suhu global.
Aktivitas Matahari
Sebagai induk tata surya, massa matahari merupakan 99,85 % dari massa total tata surya. Dengan komposisinya yang didominasi hidrogen, reaksi nuklir fusi hidrogen menjadi unsur-unsur yang lebih berat di inti matahari adalah sumber energi utamanya. Ternyata matahari bukanlah bintang yang statis. Ada gejolak-gejolak di permukaan matahari yang kadang menguat dan kadang melemah yang dikenal sebagai aktivitas matahari. Kombinasi aktivitas radiasi dan aktivitas magnetiknya diduga berperan besar pada siklus aktivitas matahari. Mekanisme terjadinya siklus aktivitas matahari itu sampai kini terus diteliti. Belum ada teori yang mampu menjelaskan secara lengkap tentang hal tersebut. Bukti-bukti empirik menunjukkan bahwa aktivitas matahari mempunyai siklus tertentu. Siklus yang paling tampak adalah siklus sekitar 11 tahun. Siklus lainnya meliputi periode 0,64; 1,14; 2,74; 5,49; 11,0; 22,0; 47,0; 88,0; dan 179,0 tahun. Siklus itu tampak pada beberapa parameter aktivitas matahari, seperti bilangan sunspot (bintik matahari), flare (ledakan di matahari), fluks radio matahari 10,7 cm, polaritas sunspot, kemunculan daerah aktif, dan neutrino. Dari analisis periodisitas diketahui bahwa periode aktivitas matahari itu sebenarnya bervariasi. Misalnya, bilangan sunspot bervariasi antara 9 – 13 tahun, tidak tetap 11 tahun.
Akibat siklus aktivitas matahari, pancaran radiasi matahari yang mencapai bumi juga bervariasi. Variasinya antara aktivitas minimum dan maksimum sekitar 0,1% - 0,5%. Analisis lebih rinci menunjukkan bahwa variasi terbesar terjadi pada gelombang pendek (sinar X dan UV) yang bervariasi antara 2 – 100 kali dan pada gelombang panjang (inframerah dan radio). Sedangkan pada cahaya tampak sedikit sekali perubahannya.
Suhu Udara
Respons suhu udara permukaan global terhadap variabilitas aktivitas matahari 11 tahunan telah diteliti dengan memanfaatkan data suhu udara permukaan jangka panjang (1894 – 1993). Kemudian hasilnya dimasukkan dalam model iklim keseimbangan energi. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan suhu udara global dipengaruhi oleh aktivitas matahari. Pengaruh terbesar terjadi di daratan dekat ekuator, terutama di wilayah Arab dan Afrika Utara yang merespons perubahan radiasi matahari 1 W/m2 dengan perubahan suhu sekitar 0,06 derajat dan di Amerika Selatan dengan respons perubahan suhu sekitar 0,05 derajat. Dari simulasi itu tampak juga bahwa respons perubahan suhu di Indonesia terhadap perubahan radiasi matahari 1 W/m2 adalah sekitar 0,045 – 0,05 derajat . Dari simulasi itu juga ditunjukkan bahwa respons aktivitas matahari terhadap suhu itu tidak langsung, tetapi ada selang waktunya yang bervariasi antara 8 – 24 bulan. Asia tengah paling cepat merespons hanya dengan selang waktu 8 bulan. Indonesia merespons dengan selang waktu sekitar 18 bulan. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa perubahan suhu permukaan rata-rata global 1750 – 1990 ternyata berkorelasi sangat baik dengan panjang siklus aktivitas matahari, bukan dengan bilangan sunspotnya.
Hujan dan Liputan Awan
Dari penelitian curah hujan 1950 – 1988 di 344 wilayah di Amerika diperoleh adanya hubungan antara curah hujan dan radiasi matahari dengan pergeseran waktu antara 0 – 7 tahun. Keterlambatan respons curah hujan terhadap radiasi matahari ditafsirkan akibat transport energi oleh arus laut, dari lautan penyerap energi matahari di daerah tropik ke lautan yang menghasilkan uap air pembentuk awan di Amerika. Penelitian lainnya menyatakan sebagian besar catatan data curah hujan di Amerika Serikat menunjukkan adanya periodisitas 10 – 11 tahun yang bersesuaian dengan periodisitas aktivitas matahari. Hal yang serupa juga ditunjukkan dari analisis data curah hujan di India dan di Australia. Penelitian menggunakan Global Circulation Model (GCM) menunjukkan bahwa perubahan UV matahari berkaitan dengan perubahan pemanasan permukaan dan pengaruh aktivitas matahari tampaknya bersifat kumulatif. Hasil GCM juga menunjukkan bahwa pengaruh aktivitas matahari pada curah hujan bergantung pada wilayah dan musim, ada yang menunjukkan korelasi positif dan ada juga yang menunjukkan korelasi negatif. Ketergantungan hubungan aktivitas matahari dan curah hujan pada musim juga dijumpai pada analisis awal hubungan aktivitas matahari dan curah hujan di Indonesia. Dengan menggunakan data curah hujan Jakarta (daerah yang data jangka panjangnya relatif lengkap) tahun 1900 – 1979 diperoleh bahwa faktor aktivitas matahari tampak lebih menonjol pengaruhnya pada curah hujan selama musim kering (bulan Agustus) daripada selama musim basah. Diperoleh juga untuk curah hujan bulan Agustus, ada kecenderungan pada saat aktivitas matahari maksimum curah hujannya cenderung maksimum, khususnya untuk rentang waktu pra-1950. Sedangkan untuk musim basah, faktor kosmogenik yang tampak berpengaruh kuat adalah siklus pasang surut bulan yang berkaitan dengan periode pergeseran titik tanjak orbit bulan yang berperiode 18,6 tahun. Dari data liputan awan untuk wilayah Indonesia Barat 1978-1996 dari satelit GMS, diperoleh bahwa di samping faktor El Nino yang menyebabkan liputan awan menurun pada tahun 1982/1983, 1986/1987, dan 1991/1992, faktor aktivitas matahari yang berperiode sekitar 11 tahun juga tampak pada analisis periodisitas liputan awan. Pada musim kering Juni – Agustus, periodisitas liputan awan sangat menonjol pada periode sekitar 11 tahun, yang menunjukkan adanya pengaruh aktivitas matahari. Pada musim peralihan Maret – Mei, di samping faktor aktivitas matahari, periode sekitar 18 tahun juga tampak menonjol yang mengindikasikan pengaruh efek pasang surut bulan. Penelitian lainnya terhadap liputan awan global dari data satelit (1980 – 1996) ternyata menunjukkan hubungan yang sangat baik dengan fluks sinar kosmik dari galaksi. Korelasi itu paling baik untuk daerah lintang tinggi. Sebenarnya, ini merupakan pengaruh tidak langsung dari aktivitas matahari, sebab fluks sinar kosmik pun sangat dipengaruhi oleh aktivitas matahari. Pada saat aktivitas matahari maksimum, fluks sinar kosmik cenderung melemah.
Parameter Iklim Lainnya
Dari serangkaian penelitian hubungan aktivitas matahari dan parameter iklim dijumpai adanya periodisitas sekitar 11 tahun yang berkaitan dengan aktivitas matahari. Parameter iklim yang menunjukkan periodisitas seperti itu antara lain indeks kebasahan dan kekeringan di Cina selama 510 tahun (1470 – 1979) dan data endapan di danau Saki selama 4000 tahun (2295 SM – 1894). Demikian juga dijumpai pada data tinggi permukaan laut, suhu permukaan laut, curah hujan, suhu udara, tekanan udara, kronologi lingkaran pohon, indeks kekeringan dan banjir, kejadian sungai banjir, badai, hasil tangkapan ikan di Eropa, hasil panen di Amerika Serikat, produksi ternak unggas, sampai data ekonomi makro di Amerika Serikat. Kajian perubahan iklim jangka panjang di wilayah sekitar Afrika Utara, India, sampai Cina selama 1000 tahun terakhir juga dilakukan dengan data kronologi lingkaran pohon, banjir dan kekeringan, indeks suhu pada musim dingin, hujan, dan ketinggian air sungai atau danau. Hasilnya menunjukkan adanya beberapa kelompok periodisitas, antara lain periode jangka menengah (10-11 tahun) yang berkaitan dengan aktivitas matahari dan jangka panjang (78-90 tahun) berkaitan dengan siklus jangka panjang aktivitas matahari yang dikenal sebagai siklus Gleissberg. Dengan menggunakan data baloon cuaca di wilayah belahan bumi Utara selama 37 tahun (1958 – 1994 atau 3,5 siklus matahari), diketahui juga adanya osilasi di atmosfer tengah dengan periode 10 – 12 tahun. Ketinggian udara dengan tekanan tertentu (30 mb) ternyata bervariasi antara 23,91 – 24,05 km yang berkorelasi sangat baik dengan variasi aktivitas matahari yang berperiode sekitar 11 tahun. Osilasi itu juga tampak di kutub Utara, Timur Tengah, Atlantik Utara, Amerika Utara, dan. Pengaruh aktivitas matahari tampak jelas pada lapisan ozon pada ketinggian sekitar 40 – 50 km. Pada lapisan ini ozon bervariasi sekitar 0,8 – 1 % terhadap variasi UV matahari sebesar 1%. Pada lapisan di bawahnya, pengaruh aktivitas matahari yang cukup kuat tampak tidak merata. Pada ketinggian sekitar 28 – 30 km variasi ozon sekitar 0,4 % hanya terjadi di lintang menengah sementara pada ketinggian sekitar 24 – 25 km variasi ozon 0,4 – 0,5% hanya terjadi di lintang rendah. Hubungan aktivitas matahari yang direpresentasikan oleh bilangan sunspot dengan pusat aktivitas cuaca di Pasifik juga pernah diteliti. Pusat aktivitas cuaca semi-permanen di Pasifik merupakan sistem tekanan udara yang berpengaruh pada arah badai dan kekuatan sirkulasi udara yang pada akhirnya mempengaruhi iklim di wilayah sekitarnya. Dua daerah sistem tekanan semi-permanen di Pasifik belahan utara diteliti: daerah tekanan rendah Aleut dan daerah tekanan tinggi Hawaii. Lokasi yang mempunyai tekanan minimum di wilayah Aleut dan tekanan maksimum di wilayah Hawaii selama bulan Desember - Januari 1900–1994 (95 tahun) diteliti perubahan lokasi dan tekananannya, kemudian diidentifikasi kekhasannya pada saat-saat aktivitas matahari maksimum dan minimum. Hasilnya menunjukkan adanya pengelompokan yang signifikan pusat aktivitas cuaca yang berkaitan dengan aktivitas matahari. Pada saat aktivitas matahari maksimum bila dibandingkan pada saat aktivitas matahari minimum, pusat tekanan rendah Aleut berpindah sejauh rata-rata 700 km ke arah timur dari sekitar 188,5 derajat BT ke sekitar 178,5 derajat BT. Sedangkan pusat tekanan tinggi Hawaii berpindah ke utara dari sekitar 31,6 derajat LU ke sekitar 33,2 derajat LU. Karena perpindahan pusat tekanan rendah dan tinggi itu berkaitan juga dengan curah hujan di daerah sekitarnya, tampaknya curah hujan di sekitar Pasifik itu terpengaruh oleh aktivitas matahari, seperti di daerah pantai barat Amerika Serikat.